Generasi Milenial LDII Komitmen Menjaga Ideologi Pancasila

Menyikapi mulai lunturnya nilai-nilai Pancasila di kalangan generasi milenial, maka pada hari Minggu 21 Juli 2019, DPD LDII Kabupaten Pamekasan menggelar seminar dengan tajuk "Pembudayaan Nilai - Nilai Pancasila pada Era Generasi Milenial" bertempat di pendopo agung ronggosukowati Pamekasan.

Pengurus DPD LDII Kab. Pamekasan Laporkan Hasil Rakernas Ke Bupati Kab. Pamekasan

Kunjungan tersebut dalam rangka silaturahim kepada bupati terpilih Kab. Pamekasan yang baru H. Baddrut Tamam, S.Psi sekaligus melaporkan hasil dari Rakernas LDII

Peringati Hari Bumi, LDII Tanam Pohon Menuju Pamekasan Sehat

Sebagai wujud kepedulian terhadap lingkungan dan dalam rangka memperingati Hari Bumi yang jatuh pada tanggal 22 April 2019, Pimpinan Cabang LDII Pademawu bekerjasama dengan Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur, Forum Pamekasan Sehat dan Ikatan Penyuluh Kehutanan Indonesia (IPKINDO) mengadakan kegiatan penanaman pohon yang dilaksanakan di sepanjang Jalan Raya Pademawu Pamekasan.

Warga LDII Se-Madura Kompak Semarakan Pemilu 2019

Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) menggelar kegiatan sosialisasi Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum di gedung PKPRI Trunojoyo Jalan Rajawali, Kab. Sampang pada Sabtu, 13 April 2019.

Menjelang Ramadhan, PAC LDII Patemon Latih Peduli Sesama dengan Donor Darah

Rabu, 1 Mei 2019 Pimpinan Anak Cabang (PAC) LDII Patemon bekerja sama dengan PMI Cab Pamekasan bagian Unit Transfusi Darah menggelar acara donor darah dengan mengusung tema "Setetes Darah Kita Berarti Untuk Mereka".

14 Oktober 2019

Bahas Penguatan SDM, Pengurus PC LDII Kec. Tlanakan Jalin Silaturahim dengan Ketua MUI


Strategi pengembangan sumber daya manusia (SDM) perlu dilakukan di era globalisasi seperti sekarang ini. Pengembangan SDM merupakan usaha yang dilakukan untuk membentuk manusia yang berkualitas dengan memiliki keterampilan, kemampuan kerja dan loyalitas. Selaras dengan arah pembangunan pemerintah saat ini yang menitikberatkan pada penguatan dan memprioritaskan program-program yang berkaitan dengan pembangunan sumber daya manusia (SDM). Menyikapi hal tersebut LDII juga turut aktif dengan melakukan kordinasi sebagai upaya dalam mempersiapkan metode yang tepat, salah satunya melakukan silaturrahim dengan ketua MUI Kec. Tlanakan. 

Pada tanggal 12 Oktober 2019, ketua PC LDII Kec. Tlanakan Drs. Imam Wahyudi bersama Dewan Penasehat LDII Kab. Pamekasan H. Sunarto Sabata melakukan kunjungan silaturahim ke kediaman Ketua MUI Kec. Tlanakan KH. Zainudin. Maksud dari pengurus LDII berkunjung adalah untuk melaporkan kegiatan rutin pengajian serta program pembinaan yang telah dilakukan oleh LDII, khususnya kepada generasi muda. LDII berfokus kepada pembentukan generasi muda yang dibina berlandaskan Al-Quran dan Al-Hadis, sehingga mampu menjadi generasi yang memiliki kefahaman agama yang baik, memiliki akhlak mulia dan memiliki jiwa mandiri. 

KH. Zainudin yang juga merupakan pengurus dari Majelis Wilayah Cabang NU ini sangat mengapresiasi terhadap kegiatan yang telah dilaksanakan oleh LDII, khususnya yang berfokus kepada penguatan SDM. Beliau sangat antusias dan senang mendengarkan laporan pemaparan kegiatan yang telah dilaksanakan oleh LDII. Beliau berpesan agar terus meningkatkan kegiatan positif yang bisa dikonsumsi oleh para remaja. Contohnya mengadakan kajian-kajian keagamaan saat liburan sekolah, sehigga waktu yang kosong tersebut dapat di maksimalkan dengan memperkuat ilmu agama. Beliau juga berharap LDII dapat konsisten melaksanakan program dalam mendorong penguatan SDM ini. Sehingga kedepannya dapat mencetak generasi yang mampu bersaing dan berkontribusi aktif dalam pembangunan bangsa. (Irsyad/Lines)

30 September 2019

LDII Cetak Generasi Unggul Lewat Kompetisi Anak Sholeh


Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) kembali mengadakan Kompetisi Anak Sholeh (KOMPAS) yang dilaksanakan di masjid Luhur Ceguk pada tanggal 29 September 2019. Kegiatan KOMPAS ini dihadiri oleh M. Ilyasar S.Ag, M.Pdi selaku Kasi Binmas Islam Kemenag Pamekasan. Turut pula hadir Sahuri selaku sekretaris Kecamatan Tlanakan.

Kompetisi Anak Sholeh (KOMPAS) ini merupakan kegiatan rutin yang diselenggarakan setiap tahun oleh DPD LDII Kab. Pamekasan dalam rangka sebagai media evaluasi dan penilaian kegiatan belajar mengajar (KBM) generasi muda LDII selama ini. Kegiatan KOMPAS dengan tema "Mewujudkan Generasi Islam yang Bertaqwa dan Berakhlakul Karimah" ini diikuti sebanyak 150 orang generasi muda LDII dari berbagai Pimpinan Anak Cabang (PAC) dan Pimpinan Cabang (PC) yang ada di Kab. Pamekasan.


Kegiatan Kompetisi Anak Sholeh (KOMPAS) yang berlangsung mulai pukul 08.00 hingga pukul 16.30 WIB ini memiliki beberapa serangkaian kegiatan, meliputi lomba adzan, lomba tartil, lomba hafalan, lomba cerdas cermat, lomba mewarnai dan lomba nasehat. Semua kegiatan tersebut dilaksanakan dibawah pengawasan dan penilaian dari para ulama serta mubaligh/mubalighot yang dimiliki oleh LDII. 

Dalam sambutannya ketua DPD LDII Kab. Pamekasan sekaligus ketua panitia KOMPAS Setyo Budi Winarno mengatakan, dengan diselenggarakannya acara KOMPAS ini LDII mencoba memberikan sebuah wadah kompetisi kepada anak-anak khususnya anak usia PAUD dan TK, untuk kemudian dapat diseleksi kemampuannya dengan tujuan dapat melahirkan pendakwah yang handal. Kompetisi Anak Sholeh ini juga dapat berkontribusi untuk memberikan penguatan pada nilai pemahaman agama, akhlak yang mulia serta kemandirian.


Dalam kesempatan ini M. Ilyasar juga turut menyampaikan pesan. "acara ini sangat positif sekali dan kami memberikan apresiasi atas partisipasi warga LDII dalam membangun, membimbing dan mendidik masyarakat khususnya di dalam membina anak-anak di indonesia. Kedepannya bisa dikembangkan lagi untuk bisa bersinergi dengan Kementrian Agama dan juga pemerintah daerah" tandasnya.

Ketua Penggerak Pembina Generus (PPG) LDII Kab. Pamekasan M. Bakir juga turut hadir dalam kegiatan KOMPAS kali ini. "Dengan diadakannya kegiatan ini diharapkan para generus terutama cabe rawit (sebutan generasi LDII usia dini) bisa meningkatkan semangatnya untuk mengikuti kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan di TPA tingkat PAC masing - masing". Selain itu "diharapkan kedepannya lebih meningkatkan prestasi belajar dalam rangka meningkatkan kefahaman terhadap agama, kemudian bertingkah laku yang berakhlakul karimah serta diharapkan mereka juga bisa mandiri pada akhirnya" ucapnya. (Lia/Lines)

13 September 2019

Upaya LDII Meningkatkan Kompetensi Guru dalam Menyambut Era 4.0


Pada era revolusi industri 4.0 saat ini banyak menciptakan disrupsi. Dalam dunia pendidikan, diperkirakan 65 persen anak yang masuk sekolah dasar saat ini kelak akan bekerja pada mata pencaharian baru di masa depan.

Hal itu dibahas dalam Lokakarya Nasional kedua yang dihelat DPP LDII pada tanggal 12 September 2019 di Jakarta. Lokakarya nasional kali ini mengambil gagasan pendidikan dengan tema "Peningkatan Kualitas  SDM Berbasis Digital".

Dalam kegiatan tersebut hadir sebagai pembicara utama, Kepala Pusat Teknologi Informasi Pendidikan dan Kebudayaan Kemendikbud RI Gogot Suharwoto. Beliau mengatakan bahwa Era 4.0 sudah mendunia dan kita bersinggungan dengannya. Sebut saja teknologi penyimpanan data berbasis cloud, kecerdasan buatan, dan Internet of Thing (IOT).

Bagaimana kaitannya dengan dunia pendidikan? Gogot Suharwoto memberikan gambaran. Anak milenial kini sejak lahir sudah terpapar teknologi digital. Misalkan ayah memposting foto anaknya yang baru lahir ke media sosial. Anak-anak milenial kini memiliki akses smartphone dan menghabiskan sedikitnya tiga jam dalam sehari.


“Kita perlu memahami generasi yang kita hadapi. Bahannya apa? Kita ingin membuat kendi maka bahannya dari tanah liat. Kita harus tahu, anak-anak yang lahir terpapar internet secara genetik sudah berbeda dengan guru yang lahir di tahun  80-an,” ujarnya.

Maka, pendidikan saat ini harus selaras dengan tuntutan Revolusi Industri 4.0. Output pendidikan harus mampu menyiapkan lulusan yang siap menghadapi masa dimana mereka akan menjalani hidup kedepannya.

Gogot Suwoto menambahkan, generasi milenial harus memiliki skill atau keterampilan berpikir kritis, berkolaborasi, komunikasi, dan kreativitas. Mereka perlu mendapatkan pengalaman belajar yang bervariasi mulai dari yang sederhana sampai pengalaman belajar yang bersifat kompleks. Ia sangat berharap guru-guru Indonesia terus berbenah diri.

“Banyak pernyataan, kunci pendidikan ada di guru. Kurikulum dan kelas apaapun jika guru tidak bagus maka semua tidak bagus. Guru harus siap mengimplementasikan teknologi dalam pengajarannya,,” ia menegaskan.

Sejak tahun 2007 hingga dibentuknya kurikulum tahun 2013, guru sudah diarahkan memiliki kompetensi memanfaatkan teknologi untuk pengajaran. Minimal mampu membuat konten pembelajaran berbasis teknologi.

Guru juga harus memperhatikan prinsip mampu menerapkan teknologi yang terintegrasi, sistematis, dan efektif. Walaupun demikian, teknologi tetaplah alat. Agar siswa-siswa di era milenial mampu bekerja sama dan termotivasi, guru memiliki peran yang penting.

“Harus ada perubahan, guru yang biasanya instruksi artinya gaya memerintah harus dirubah menjadi gaya konstruksi, anak-anak bisa terlibat sehingga bisa membentuk pemahamannya masing-masing,” ujarnya.  

Untuk mengakomodir hal itu, Kemendikbud memiliki platform digital berupa Rumah Belajar. Di dalamnya terdapat konten audio visual yang dapat diunggah oleh para pakar pendidik.  Contohnya adalah simulasi pembelajaran,  

Di waktu yang sama, LDII melaunching Pondok Belajar Profesional Religius yang bisa diakses di pondokbelajar.ldii.or.id. Platform digital ini mengakomodasi para pelaku dan pakar pendidikan dilingkungan LDII  seperti guru, mubaligh-mubalighot, orang tua, pamong, yayasan, hingga ketua pesantren.

Gogot Suhartowo pun berharap, platform ini dapat bersinergi dengan platform Rumah Belajar Kemendikbud. Soal kerjasama, ia sangat terbuka  karena pada dasarnya, Rumah Belajar Kemendikbud pun berbasis APBN yang berasal dari rakyat.

“Jika LDII mau mengadaptasi konten yang ada, kami punya 40.000 konten audio visual. Kami juga akan memberikan pelatihan pada guru-guru LDII,” ujarnya.

22 Juli 2019

Generasi Milenial LDII Komitmen Menjaga Ideologi Pancasila


Pancasila sebagai falsafah hidup bangsa Indonesia seyogianya dapat dijalankan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai pandangan hidup, Pancasila bertujuan menciptakan kerukunan antar masyarakat, menghargai satu dengan yang lain, memperkokoh gotong royong dan memperkuat sistem demokrasi bangsa. 

Namun sayang seiring perkembangan zaman, nilai-nilai penting yang terkandung di dalam Pancasila kini mulai luntur di tengah-tengah masyarakat, tak terkecuali para generasi muda bangsa. Menyikapi mulai lunturnya nilai-nilai Pancasila di kalangan generasi milenial tersebut, maka pada hari Minggu 21 Juli 2019, DPD LDII Kabupaten Pamekasan menggelar seminar dengan tajuk "Pembudayaan Nilai - Nilai Pancasila pada Era Generasi Milenial" bertempat di pendopo agung ronggosukowati Pamekasan. 

Acara tersebut dihadiri oleh sekretaris daerah Pamekasan, ketua DPW LDII propinsi Jawa timur, ketua DPD LDII se Madura dan generasi muda LDII sebanyak 250 orang. Para peserta terlihat sangat antusias dalam mengikuti kegiatan yang dibawakan oleh Muhammad, S.H dosen asal Universitas Madura ini. 

Dalam laporannya, ketua panitia sekaligus ketua DPD LDII Kabupaten Pamekasan Setyo Budi Winarno, S.Pd., MM., M.Pd menuturkan bahwa Pancasila tidak hanya sekedar dihafal, namun juga harus menjadi urat nadi kehidupan dalam berbangsa dan bernegara, utamanya kaum muda yang kelak menjadi pemimpin di negara ini. 


Sekda Pamekasan Totok Hartono yang hadir mewakili Bupati Pamekasan dalam sambutannya mengatakan, "Saya percaya generasi milenial khususnya generasi muda LDII yang tersebar di seluruh penjuru tanah air adalah kader kader pemimpin masa depan yang memiliki kecerdasan spiritual dan ke-indonesiaan yang benar-benar menjadi kekuatan strategis dalam mengawal pembangunan bangsa ke depan khususnya di Kabupaten Pamekasan”. 

Di kesempatan yang sama Amien Adhy selaku ketua DPW LDII Jawa Timur juga menekankan bahwa kita harus bisa mengkomunikasikan nilai-nilai Pancasila pada generasi milenial. "Karena anak anak milenial ini lahir tidak mengenal sejarah, tidak mengenal pahlawan, yang dikenal adalah gadget. Jadi tantangannya adalah bagaimana agar kita bisa mensosialisasikan dan membudayakan Pancasila pada anak-anak kita. Pancasila tidak hanya dihafal tetapi juga dibudayakan sehingga setiap gerak tingkah laku anak-anak kita mencerminkan sila-sila yang ada di dalamnya. Kami berharap hal ini juga dapat menggema dan direspon oleh jajaran DPD LDII lainnya di Jawa Timur yang bisa dan mampu menyelenggarakan seminar seperti ini" Imbuhnya." (Irsyad)

17 Mei 2019

Kurangi Ketergantungan dengan PLN, LDII Bangun PLTS Ponpes Terbesar di Indonesia


KEDIRI – Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di pondok pesantren Wali Barokah, Kediri, Jawa Timur. Ketua DPP LDII Prasetyo Sunaryo mengatakan selama ini pondok pesantren masih tergantung kepada perusahaan listrik negara (PLN) dalam membantu penerangan di lingkungan pondok. Akibatnya beban biaya yang ditanggung terus meningkat seiring dengan besarnya pemakaian listrik. 

"Berkacara dari hal tersebut DPP LDII melakukan terobosan berupa pembangunan PLTS sendiri. Sebagai tahap awal dibangung di Ponpes Wali Barokah kota Kediri," kata Prasetyo Sunaryo.

Pengembangan PLTS yang terbesar di Indonesia untuk ponpesini, dikatakan Prasetyo merupakan bentuk pemanfaatan dan penerapan energi baru terbarukan (EBT) sesuai dengan rencana jangka panjang organisasi. 

"Ponpes yang menggunakan PLTS sebesar ini merupakan yang pertama di Indonesia. Ini wujud paradigma khusus tidak cukup dengan cara pandang perbandingan harga saja. Pendayagunaan EBT komparasinya bukan terhadap harga BBM, tetapi harus terhadap pengandaian apabila terjadi kelangkaan energy BBM. Ini yang menjadi pemahaman organisasi yang kita terapkan," tambah Prasetyo.

"Khusus energy matahari, karena Indonesia sebagai negara tropis tidak ada musim salju, sehingga energy matahari tersedia sepanjang tahun. Dari perspektif religious, penggunaan energy matahari merupakan manifestasi kesyukuran ke Allah yg mengkarunia Indonesia dengan sinar matahari yg tak ternilai harganya," imbuhnya.

Pimpinan Ponpes Walibarokah KH Soenarto mengaku pihaknya ingin mensyukuri anugerah Allah berupa sinar matahari, untuk menjadi energi listrik untuk menerangi pondoknya. Sehingga terjadi penghematan biaya pengelolaan pondok secara signifikan. 

“Untuk kedepannya ada pemikiran menjadikan ponpes ini, sebagai wisata religi dan edukasi teknologi PLTS. Sehingga menginspirasi masyarakat untuk berpartisipasi dalam penerapan Energi Baru Terbarukan,” kata pria asal Klaten tersebut.


PLTS yang dibangun instalasinya di ponpes tersebut berukuran 40 m x 41 m. Menurut pakar PLTS yang aplikator PLTS di Ponpes Walibarokah, Horisworo, dengan pertimbangan untuk memberikan manfaat yang lama, maka dana yang terkumpul secara gotong royong warga LDII tersebut dibelikan panel surya (Solar Cell) yang premium grade buatan Kanada.

“Maka harganya, termasuk peralatan penunjangnya mencapai Rp.10,1 Milyar. Tapi potensi umat yang besar ini harus diwujudkan dengan membeli yang premium grade buatan Kanada. Sayang bila hanya beli buatan Cina yang harganya lebih murah. Tapi yang perlu dipahami mahalnya itu didepan saja. Dengan adanya garansi 25 tahun dari produsennya, maka yang dari Kanada ini jatuhnya malah lebih efisien,” kata Horisworo saat memberikan pemaparkan di lokasi PLTS ponpes tersebut.

Bantuan NASA

PLTS tersebut nantinya akan menghasilkan 1 juta Watt maksimalnya. Dan saat ini belum dioptimalkan seluruhnya, karena kebutuhan ponpes dengan 5000 santri tersebut sudah terpenuhi dan masih ada banyak kelebihan. Penerangan di ponpes yang terletak ditengah Kota Kediri tersebut, juga sangat bagus. Saat suaramerdeka.news tiba disana pada malam hari terlihat penerangan yang maksimal, lebih terang dari Mal. Hal ini membuat santri lebih nyaman belajar dan beraktifitas serta kondisi tersebut didapat dengan efisien karena memanfaatkan PLTS. 

“Prinsipnya ponpes Walibarokah sudah mempraktekkan dan berinvestasi jangka panjang dalam bidang EBT. Pembangunan dan pengembangan ponpes adalah sebuah keniscayaan, dan kami sudah menabung, sudah berinvestasi untuk mandiri energi, memanfaatkan karunia Allah. Maka kami serius membangunnya, sampai untuk penentuan titik dimana intensitas sinar matahari terbesar, kami minta bantuan satelit NASA. Ya digedung inilah yang intensitas sinar matahari tertinggi (dibandingkan beberapa gedung di ponpes tersebut),” papar pria asal Banyumas tersebut.

Saat ini warga Kota Bandung tersebut sudah merencanakan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Bio Masa (PLTBM) dengan memanfaatkan sampah harian dari warga ponpes yang jumlahnya ribuan orang.

“Dari sampah atau suatu yang dibuang bisa kita manfaatkan menjadi energi. Dengan berbekal pengalaman telah membuat PLTMB di Bandung, saya punya keinginan bisa menghadirkannya di ponpes ini. Potensi dari sampah disini sangat besar, dan bisa makin mengokohkan kemandirian energi ponpes ini. Tinggal menunggu bagaimana musyawarah pimpinan pondok,” kata Horisworo.

Sebelumnya, untuk memenuhi kebutuhan energi listrik secara mandiri juga dikembangkan pembangkit lisrik berskala kecil, pembangkit listrik mikro hidro (PLTMH) di pabrik teh Jamus di Ngawi. 

Pabrik teh peninggalan Belanda. tahum, 1928 seluas 478 ha itu, semula digarap menggunakan bahan bakar minyak ( BBM) dan kayu bakar. Kini semuanya menggunakan listrik secara mandiri PLTMH. 

PLTMH yang dirancang oleh Horisworo teraebut, pada tahun 2007. Menurut Purwanto wahyu, Pimpinan Perkebunan Jamus, untuk satu unitnya mampu memghasilkan 100 kwh dengan investasi awal sebesar Rp 1,7miliar. Kemudian setelah itu dibangun satu unit lagi dengan biaya Rp 900 juta dengan menghasilkan 100 kwh dan setahun kemudian disusul pembangunan lagi yang melewati tanah masyarakat dengan menghasilkan 50 kwh. (Johar-Humas DPP LDII)

03 Mei 2019

Menjelang Ramadhan, PAC LDII Patemon Peduli Sesama dengan Donor Darah


Rabu, 1 Mei 2019 Pimpinan Anak Cabang (PAC) LDII Patemon bekerja sama dengan PMI Cab Pamekasan bagian Unit Transfusi Darah menggelar acara donor darah dengan mengusung tema "Setetes Darah Kita Berarti Untuk Mereka".

Acara ini diselenggarakan di Jln. Trunojoyo Gg.VII No. 119 Pamekasan, tidak jauh dari Masjid Baitussolihin binaan LDII. Donor darah yang di ikuti oleh puluhan orang ini dimulai pukul 08.00 WIB.

Adapun peserta donor darah tersebut berasal dari warga LDII dan masyarakat lainnya yang tinggal tinggal di sekitar lingkungan PAC LDII Patemon. Acara berjalan lancar meski sempat di guyur hujan, namun hal ini tidak menyurutkan semangat warga yang ingin ikut berpartisipasi mendonorkan darahnya. Mulai dari generasi muda hingga para orang tua sangat antusias untuk mendonorkan darahnya.

Donor darah merupakan satu kegiatan mulia yang bisa dilakukan oleh seorang manusia. Dengan melakukan donor darah, Anda berarti membantu manusia lain untuk tetap hidup.Donor darah juga memiliki banyak manfaat salah satunya yaitu dapat membuat sirkulasi darah dalam tubuh kita menjadi lancar. Kemudian, membuat jaringan baru pada tubuh, oksigenisasi jaringan serta membuat tubuh lebih segar dan ringan.


Muhlisin selaku ketua PAC Patemon berharap aksi donor darah yang pertama kali digelar ini nantinya menjadi agenda rutin yang dapat dilaksanakan oleh LDII PAC Patemon sebagai wujud kepedulian terhadap sesama bagi yang membutuhkan darah. (Dewi)

22 April 2019

Peringati Hari Bumi, LDII Tanam Pohon Menuju Pamekasan Sehat


Sebagai wujud kepedulian terhadap lingkungan dan dalam rangka memperingati Hari Bumi yang jatuh pada tanggal 22 April 2019, Pimpinan Cabang LDII Pademawu bekerjasama dengan Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur, Forum Pamekasan Sehat dan Ikatan Penyuluh Kehutanan Indonesia (IPKINDO) mengadakan kegiatan penanaman pohon yang dilaksanakan di sepanjang Jalan Raya Pademawu Pamekasan. Acara yang juga dihadiri oleh Camat Pademawu ini dilaksanakan pada hari Minggu, 21 April 2019 dan diikuti sekitar 50 orang remaja PC LDII Pademawu yang tergabung dalam kelompok Remaja Cinta Alam Indonesia.

Dalam kesempatan itu, Fathorrachman selaku Camat Pademawu mengapresiasi kegiatan ini dan berpesan “Semua masyarakat harus bergerak dengan ikut membantu mensukseskan program Pamekasan Sehat yang selalu didengungkan oleh Bapak Bupati kita, mewujudkan Pamekasan yang sehat, lingkungan juga yang sehat, dan tentunya ya masyarakatnya juga harus sehat. Dimulai dari lingkungan kecil, memulai dari yang sedikit, kita getok tularkan ke desa-desa yang lain.”. Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur melalui Kepala Seksi Rehabilitasi Lahan dan Pemberdayaan Masyarakat wilayah madura, Agung Katri Atmodjo juga berpesan pada masyarakat agar menyadari eksplorasi tanaman seharusnya diimbangi dengan rehabilitasi pohon dan pemerintah setempat peduli serta melibatkan berbagai pihak termasuk organisasi LDII.


Lebih lanjut, Agung menjelaskan alasan pemilihan pohon mahoni yang ditanam ini dikarenakan struktur dari pohon mahoni yang tumbuh keatas dan memiliki nilai ekonomis tertinggi ke 2 (dua) setelah pohon jati sehingga dirasa tepat bila bibit pohon ini yg dipilih dalam kegiatan penghijauan di sepanjang jalan Raya Pademawu.


Penanaman pohon perlu dilakukan guna menghasilkan lebih banyak oksigen di bumi dan menekan terjadinya pemanasan global yang semakin parah belakangan ini. Ini juga sebagai bentuk komitmen LDII dalam menerapkan konsep Green Dakwah, yang menyelaraskan ibadah dan pelestarian alam lingkungan sekitar. Setyo Budi Winarno selaku ketua DPD LDII Pamekasan yang menjadi leading sector kegiatan ini berharap, nantinya pohon yang ditanam ini dapat tumbuh dan berkembang sehingga sepanjang jalan utama menuju kawasan wisata Pantai Jumiang yang juga terletak di Kec. Pademawu ini bisa rindang sehingga menambah keindahan alam di sepanjang Jalan Raya Pademawu, Pamekasan. (Ika)